Keuntungan dan Kekurangan Bisnis Peternakan Ayam Petelur

Keuntungan dan Kekurangan Bisnis Peternakan Ayam Petelur - Bisnis layer (ayam petelur) di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera Selatan mulai berkembang sejak tahun 1978. Kala itu bisnis layer bisa dikatakan masih sepi, karena kebanyakan masyarakatnya bercocok tanam (petani) dan beternak babi.

Ketua Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumatera Selatan (Ampera), Ismaidi menuturkan, ratarata peternak layer saat itu adalah masyarakat atau penduduk asli Palembang yang awalnya bertani, bercocok tanam, dan sebagian beternak babi.



“Tahun 1978, peternak layer bisa dikatakan masih sepi dan masih sangat kurang. Tahun 1980 mulai bermunculan, dengan alih profesi dari bertani menjadi beternak,” ujarnya. Kebutuhan telur yang terus meningkat dari tahun ke tahun, menuntut masyarakat berusaha memenuhi kebutuhan mereka.

“Mereka sadar bahwa telur dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, selain harganya murah dan mudah didapatkan. Sehingga bisnis layer maupun telur menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan,” imbuh Ismaidi. Telur yang dihasilkan dari peternak lokal sebanyak 250 ton per hari, namun 20 % dari total produksi tersebut dikirim ke luar daerah, sama halnya dengan provinsi lain. “Hampir 50 ton telur dikirim ke luar daerah setiap hari, baik ke pulau Jawa seperti Jawa Barat dan Jakarta.

Selain itu, memenuhi kebutuhan Bangka Belitung maupun daerah seputaran Sumbangsel. Artinya, kebutuhan telur di Sumatera Selatan sudah cukup dipenuhi oleh peternak lokal, dan tidak perlu mendatangkan dari daerah lain,” pungkasnya. Ketua Pinsar (Perhimpunan Insan Per ung gasan) Sumsel ini menerangkan, sentra peternakan layer di Sumatera Selatan, berada di Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Prabumulih dan sebagian Kota Palembang.

Rata-rata kepemilikan sejumlah 50 60 ribu ekor, dengan pemeliharaan yang masih konvensional. Tapi ada beberapa peternak mulai merubah model kontruksi kandangnya untuk mengantisipasi cuaca dan aliran udara di lokasi farm.

“Namun penggunaan kandang modern atau yang lebih dikenal dengan closed house (kandang tertutup) masih sangat sedikit,” akunya. Andi Santoso, pemilik Candi Farm misalnya, menggunakan kandang open house (kandang terbuka) dalam budidaya layernya. Ia mengaku, kandang dengan sistem open house tidak kalah bagusnya dengan sistem closed house. “Tergantung bagaimana kita mengaturnya,” ucap Andi.

Kandang ayam modern "closed house"

Selama ini, sambung Andi, ia selalu menerapkan biosekuriti yang ketat. Farm disemprot setiap hari, lalu lintas barang maupun orang semakin dipersempit, ditambah dengan program vaksinasi yang teratur. Alhasil, peternakannya tidak pernah mengalami outbreak penyakit apapun.

“Semua kita desain dan atur bagaimana sebaiknya ayam hidup dan berproduksi dengan baik. Oleh itu, manajemen pemeliharaan harus sesuai dengan standar, pun begitu harus lebih agresif untuk mendapatkan informasi dari luar,” terangnya. Andi mulai beternak layer tahun 2002. Menurutnya, ketika itu baru lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) dan ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi di Jakarta.

Namun, karena niat yang besar ingin beternak, biaya kuliah yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya digunakan sebagai modal beternak. “Awalnya ditentang, karena orang tua sangat berharap anaknya menjadi sarjana lulusan universitas di Jakarta. Namun akhirnya saya tetap kuliah di Palembang sambil beternak, meski tidak sampai selesai,” cerita Andi.


Baca juga : Tips mudah untuk mengembangkan usaha kecil

Keinginan Andi yang kuat saat itu, tidak lain karena melihat bisnis layer terus berkembang. Terbukti farm yang berlokasi di Desa Sukamakmur Kabupaten Banyuasin dengan populasi hanya 3 ribu ekor saat itu, kini berkembang menjadi 40 ribu ekor. Ia katakan beternak adalah profesi yang mulia dan beruntung karena bergerak di usaha pangan yang dibutuhkan masyarakat luas. “Dan secara umum bisnis layer memiliki masa depan yang sangat panjang,” timpalnya.

Keterbatasan Stok Jagung

Keterbatasan stok jagung masih menjadi polemik bagi peternak layer tanah air, mengingat sebagian besar peternak mengaduk pakan sendiri (self mixing) untuk ayamnya, dimana jagung menjadi bahan baku utama. “Terbatasnya jagung ditambah dengan ditutupnya kran impor oleh pemerintah dengan alasan yang sulit dimengerti, karena kondisi riil yang terjadi tidak dipahami sepenuhnya oleh mereka,” ujar Ismaidi. Keterbatasan tersebut membuat harga beli peternak menjadi tinggi, dan sangat memengaruhi harga pokok produksi (HPP). Dia menyebut, HPP peternak saat ini (6/9) berada di posisi antara Rp 12.500 – 14.500 per kg, dan ini belum termasuk biaya-biaya lainnya, pun dengan penyusutan.

Harga telur sekitar Rp 16 ribu – 17 ribu per kg sebenarnya sudah cukup baik. Tapi dengan catatan FCR (Feed Conversion Ratio) berada di angka 2,1-2,2. Tak ayal, menurut Ismaidi, peternak yang tadinya menggunakan konsentrat dari pabrikan dan mengaduknya dengan jagung giling dan dedak, sekarang mulai menggunakan pakan komplit atau pakan jadi. “Beberapa dari mereka yang self mixing mulai menggunakan gandum bahkan limbah dari pabrik mie instan untuk menekan harga dan antisipasi keterbatasan stok jagung,” sambungnya.

Andi mengatakan, bisnis layer saat ini sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan dibandingkan sejak awal beternak. “Harga jual telur curah semakin dekat dengan HPP peternak, ini sangat berbeda dengan kondisi sebelum 2010,” tukasnya. Agar bisa bertahan, Andi yang setiap harinya menghasilkan telur rata-rata 1.500 kg ini sebisa mungkin memotong rantai distribusi. Menurutnya, kondisi saat ini sekitar 50 % telur dijual ke pengepul dan 50 % penjualan langsung ke konsumen seperti hotel maupun restoran.

Baca juga : Beberapa resiko wirausaha yang harus anda ketahui

Ismaidi mengatakan, persoalan lain yang mengganggu adalah belum jelasnya tata ruang dan wilayah, artinya peternak membutuhkan kejelasan area lokasi untuk berusaha secara hukum dan peraturan peemrintah yang jelas.

Kemudian kejelasan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam berusaha termasuk biaya yang muncul atas dokumen tersebut. “Kita tidak boleh menutup mata, kondisi-kondisi seperti ini menjadi ladang tersendiri bagi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab,” sebutnya.

Di samping itu, jumlah tenaga kerja atau sumber daya manusia (SDM) yang tersedia dirasakan cukup, hanya untuk dari kualitas masih sangat jauh. “Jika saja pemerintah daerah bersama dinas terkait bisa membuka sekolah khusus untuk tenaga peternakan khusus unggas, karena yang tersedia saat ini adalah tenaga kerja kasar.

Kalau pun ada, dukungan dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada hanya sebatas pertanian, perkebunan dan peternakan secara umum. Kualitas tenaga kerja sekarang sudah menjadi perhatian serius,” tutur Ismaidi.

Banyak perusahaan-perusahaan besar melakukan aktivitas bisnis pendukung perusa Ismaidi Andi Santoso haan di wilayah Sumatera Selatan. Ismaidi berharap, peternak dapat diikutkan dalam kegiatan workshop (pelatihan) untuk meningkatkan pe ngetahuan dan kemampuan tenaga kerja yang ada. “Sekarang baru semacam seminar biasa, belum menyentuh ke SDM. Sehingga pemahaman budidaya serta manajemen pemeliharaan masih jauh ketinggalan dengan wilayah sentra layer lainnya di Indonesia seperti Medan, Jawa Barat dan Jawa Timur,” jelasnya.

No comments:

Powered by Blogger.