Mendukung Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Hutan di Indonesia


Mendukung Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Hutan di Indonesia - Hutan memang memiliki sejuta manfaat yang dapat digunakan oleh manusia. Siapa pun bisa mengambil manfaatnya, namun bagaimana dengan menjaga kelestarian hutan ?? Nytanya, pengelolaan hutan bukan perkara mudah. Butuh upaya serius dari semua pihak untuk melakukannya. Pemerintah saja tidak akan bisa melakukannya tanpa dukungan pihak swasta maupun masyarakat. Untuk itulah, semua upaya merawat hutan hendaknya saling berkesinambungan dan mendukung.
   
Hal inilah yang dilakukan oleh perusahaan yang bernaung di bawah grup Royal Golden Eagle. Grup usaha milik pengusaha Sukanto Tanoto ini tak ragu untuk menggandeng masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. Salah satunya adalah konsep hutan larangan. Pada dasarnya, ini adalah bentuk kearifan lokal dalam menjaga hutan tetap lestari. Caranya ialah dengan menghadirkan beragam pantangan untuk merambah atau mengekploitasi kawasan hutan tertentu.

Ada beragam bentuk larangan yang muncul. Biasanya masyarakat mengaitkannya dengan takhayul atau mitos untuk mengugah kesadaran warganya. Pelanggarnya pun akan dikenai sanksi secara adat.

Langkah ini dirasa cukup efektif dalam pengelolaan hutan. Kelestarian kawasan hutan larangan biasanya cukup terjaga. Salah satunya adalah hutan larangan adat Ghimbo Potai.Terletak di desa Rumbio yang ada di Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, hutan larangan Ghimbo Potai merupakan milik masyarakat adat Rumbio. Dengan luas mencapai 530 hektare, area ini termasuk salah satu kawasan yang keasliannya terus terjaga.

Banyak manfaat yang diberikan oleh hutan larangan adat Ghimbo Potai kepada masyarakat. Selain menjadi sumber udara bersih, area ini juga menghasilkan air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Per hari sekitar 40 ribu liter air bersih diambil dari kawasan ini untuk konsumsi masyarakat di daerah sekitarnya seperti Bangkinang, Pekanbaru, Siak, Pelalawan, Rohul, Kabupaten Kuansing dan Bengkalis.

Mengetahui hal ini, perusahaan Sukanto Tanoto segera aktif mendukung upaya pengelolaan hutan larangan adat Ghimbo Patai. Satu di antaranya dengan memberikan dukungan bantuan bibit pepohonan untuk ditanam di sana.Pada Juni 2016, dua ribu bibit pohon eucalyptus dan tanaman buah-buahan lokal diberikan untuk kemudian ditanam di area hutan larangan adat Ghimbo Potai untuk menjaga kelestariannya.

Sebelumnya perusahaan Sukanto Tanoto juga sering membantu pengelolaan hutan larangan adat Ghimbo Potai. Mereka telah membangun gerbang masuk, menyediakan puluhan bangku dan saung di hutan, serta memberi nama jenis pohon-pohon yang terdapat di dalam kawasan hutan plus membuat jalan sepanjang 1,2 kilomeeter di dalamnya.

Dukungan yang diberikan perusahaan Sukanto Tanoto dalam pengelolaan hutan bukanlah hal aneh. Sukanto Tanoto sudah mewajibkan perusahaannya untuk bisa memberi manfaat kepada iklim. Membantu menjaga kelestarian hutan merupakan salah satu wujud nyatanya.

Selain itu, melalui Tanoto Foundation yang didirikannya, perusahaan Sukanto Tanoto juga ikut mendukung perkembangan ilmuwan kehutanan di Indonesia. Caranya ialah dengan mendirikan Tanoto Forestry Information Center di kawasan kampus Institut Pertanian Bogor. Gedung dan fasilitas ini diharapkan menjadi pusat pengembangan ilmu kehutanan di negeri kita. Tujuan utamanya agar ilmuwan kehutanan mampu menghasilkan terobosan apik untuk pengelolaan hutan di Indonesia.

No comments:

Powered by Blogger.